Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

WHO Sebut 1 Anak Tewas Setiap 10 Menit di Gaza

WHO Sebut 1 Anak Tewas Setiap 10 Menit di Gaza – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa rata-rata satu anak tewas setiap 10 menit di Jalur Gaza yang terus diselimuti perang antara Israel dan Hamas.

FILE - A Palestinian man cries while holding a dead child who was found under the rubble of a destroyed building following Israeli airstrikes in Nusseirat refugee camp, central Gaza Strip on Oct. 31, 2023. In just 25 days of war, more than 3,600 Palestinian children have been killed in Gaza, according to Gazas Hamas-run Health Ministry. The advocacy group Save The Children says more children were killed in Gaza in October 2023 than in all conflict zones around the world combined in 2022. (AP Photo/Mohammed Dahman, File)

WHO Sebut 1 Anak Tewas Setiap 10 Menit di Gaza

WHO bahkan menggambarkan sistem layanan kesehatan di Jalur Gaza saat ini sedang ‘bertekuk lutut’ menghadapi situasi kemanusiaan yang mengerikan.

“Tidak ada tempat dan tidak ada seorang pun yang aman,” sebut Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus saat berbicara di hadapan 15 negara anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), seperti dilansir Reuters, Sabtu (11/11/2023).

Dalam sidang Dewan Keamanan PBB pada Jumat (10/11), Tedros melaporkan bahwa setengah dari total 36 rumah sakit di Jalur Gaza dan dua pertiga pusat layanan kesehatan primer di sana sudah tidak beroperasi.

Dia menyebut bahwa rumah sakit yang masih bertahan pun harus beroperasi melebihi kapasitas.

“Koridor rumah sakit penuh dengan korban luka, orang-orang sakit, dan orang-orang yang sekarat. Kamar mayat kewalahan. Operasi bedah dilakukan tanpa anestesi. Puluhan ribu pengungsi berlindung di rumah-rumah sakit,” tutur Tedros dalam pernyataannya.

Israel bersumpah untuk menumpas Hamas yang menguasai Jalur Gaza, setelah serangan pada 7 Oktober lalu yang menurut para pejabat Tel Aviv telah menewaskan sekitar 1.200 orang dan membuat lebih 240 orang disandera.

Militer Israel menggempur Jalur Gaza yang menjadi tempat tinggal bagi 2,3 juta orang dari udara, melakukan pengepungan total dan mengerahkan operasi darat untuk membalas serangan Hamas.

Lebih dari 11.000 orang, termasuk 4.500 anak-anak, tewas akibat serangan Israel selama lebih dari sebulan terakhir.

Anak GAza

“Rata-rata, satu anak tewas setiap 10 menit di Gaza,” sebut Tedros di hadapan Dewan Keamanan PBB.

Sejak 7 Oktober, menurut Tedros, WHO telah memverifikasi lebih dari 250 serangan terhadap layanan kesehatan di Gaza dan Tepi Barat, sementara lebih dari 25 serangan diverifikasi terhadap layanan kesehatan di Israel.

Israel menuding Hamas menyembunyikan persenjataan di dalam terowongan yang ada di bawah gedung rumah sakit di Gaza. Tudingan itu dibantah oleh Hamas.

Duta Besar Israel untuk PBB, Gilad Erdan, dalam forum yang sama menyatakan negaranya telah membentuk satuan tugas khusus untuk mendirikan sejumlah rumah sakit di wilayah Jalur Gaza bagian selatan.

“Israel sedang melakukan pembicaraan lanjutan dengan Uni Emirat Arab, ICRC dan negara-negara Eropa lainnya mengenai pendirian rumah sakit lapangan dan rumah sakit terapung. Israel memfasilitasi pengiriman bantuan medis dari Yordania ke rumah sakit di Gaza bagian utara,” sebutnya.

Sementara Wakil Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk PBB, Robert Wood, mengatakan bahwa Washington sedang berupaya menyediakan bahan bakar untuk rumah-rumah sakit di Jalur Gaza.

Dalam sidang pada Jumat (10/11) waktu setempat, Dewan Keamanan PBB mengheningkan cipta sejenak di awal pertemuan untuk mengenang warga sipil yang tewas di Israel dan Jalur Gaza, juga menghormati 101 orang yang bekerja dengan badan pengungsi Palestina PBB atau UNRWA.

Sebuah terowongan labirin luas yang dibangun oleh kelompok militan Hamas membentang di jalur padat penduduk di Gaza. Terowongan itu menyembunyikan para pejuang, persenjataan roket, dan lebih dari 200 sandera.

Hamas-Israel Sedang Negosiasi Soal Pembebasan Sandera Sipil

Kelompok Hamas dan Israel dilaporkan sedang melakukan negosiasi seputar upaya pembebasan para sandera yang kini ditahan di Jalur Gaza.

Otoritas Tel Aviv sebelumnya menyebut ada lebih dari 240 orang yang disandera Hamas dan dibawa ke Jalur Gaza usai serangan mematikan pada 7 Oktober lalu.

Seperti dilansir Al Jazeera, Sabtu (11/11/2023), informasi soal negosiasi antara Hamas dan Israel ini disampaikan oleh media terkemuka New York Times (NYT), yang mengutip sejumlah pejabat Israel yang enggan disebut namanya dan beberapa sumber lainnya yang memahami negosiasi tersebut.

Laporan NYT menyebutkan bahwa Hamas dan Israel sedang menegosiasikan dua proposal untuk pembebasan sandera di Jalur Gaza, dengan salah satu proposal mencakup pembebasan sejumlah kecil warga sipil dan satu proposal lainnya melibatkan kemungkinan pembebasan sekitar 100 orang yang ditahan.

“Berdasarkan satu proposal yang sedang dibahas, Hamas akan membebaskan 10-20 sandera sipil wanita dan anak-anak Israel serta warga negara asing, termasuk warga negara Amerika sebagai pertukaran atas jeda singkat pertempuran,” sebut NYT dalam laporannya.

Sebagai imbalan atas pembebasan sandera, menurut seorang pejabat Israel kepada NYT, Hamas disebut meminta penghentian sementara pertempuran, kemudian lebih banyak bantuan kemanusiaan, bahan bakar untuk rumah sakit, dan pembebasan tahanan wanita dan anak-anak di penjara Israel.

israel dituding lakukan kejahatan perang apa makna dan bagaimana hukumnya

Ditambahkan pejabat itu bahwa otoritas Israel telah menyampaikan ketidakyakinan dalam pembebasan para tahanan.

NYT dalam laporannya juga menyebut bahwa Qatar menjadi mediator utama dalam negosiasi yang sedang berlangsung antara Hamas dan Israel tersebut. Sejumlah pejabat senior AS juga disebut ikut terlibat dalam negosiasi itu.

Negosiasi ini dilakukan saat kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza semakin memperburuk, yang meningkatkan seruan gencatan senjata kemanusiaan dari komunitas internasional.

Namun Hamas dan Israel sama-sama menolak untuk menerapkan gencatan senjata.

Pekan ini, Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu menegaskan tidak akan akan ada gencatan senjata sampai semua sandera yang ditahan oleh Hamas dibebaskan.

Sementara Hamas sebelumnya menyatakan enggan membebaskan sandera atau menghentikan pertempuran saat Jalur Gaza terus diserang.

Rentetan serangan Israel terhadap Jalur Gaza yang berlangsung selama sebulan terakhir, menurut otoritas kesehatan Gaza, telah menewaskan sedikitnya 11.078 orang, yang mencakup lebih dari 4.500 anak-anak.

Serangan Israel itu membalas serangan mengejutkan Hamas pada 7 Oktober lalu, yang menurut para pejabat Tel Aviv telah menewaskan 1.200 orang dan membuat 240 orang lainnya disandera.

Mereka yang disandera Hamas tidak hanya terdiri atas warga sipil dan tentara Israel, namun juga sejumlah warga negara asing.

Para sandera itu diyakini kini ditahan di Jalur Gaza.

WHO Sebut 1 Anak Tewas Setiap 10 Menit di Gaza

Israel Dituding Lakukan Kejahatan Perang, Bagaimana Aturan Hukumnya?

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan Israel telah melakukan “kejahatan perang” melalui “hukuman kolektif” terhadap orang-orang di Jalur Gaza.

“Hukuman kolektif yang dilakukan Israel terhadap warga sipil Palestina juga merupakan kejahatan perang, begitu pula evakuasi paksa terhadap warga sipil yang melanggar hukum,” kata Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi, Volker Turk, pada Rabu (08/11).

Dia juga mengatakan Hamas telah melakukan kejahatan perang. Lebih dari 10.000 orang telah terbunuh di Gaza, menurut Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas.

Israel mengklaim punya hak untuk membela diri dan berusaha menghancurkan kelompok milisi Palestina, Hamas.

Mereka telah melancarkan serangan udara di Gaza sejak Hamas membunuh 1.400 orang dan menyandera lebih dari 200 orang pada 7 Oktober.

Apa itu hukum humaniter internasional?

PBB mengatakan perlindungan warga sipil adalah prioritas utama dalam konflik apa pun dan tidak ada pihak yang kebal hukum. Inilah yang dikenal dengan hukum humaniter internasional (IHL).

“Pelanggaran yang dilakukan oleh satu pihak tidak bisa dijadikan alasan untuk memaafkan pelanggaran yang dilakukan pihak lain,” kata Tara Van Ho, seorang profesor di Essex Law School and Human Rights Centre di Inggris.

“Demikian pula, perbedaan kekuasaan antara Israel, pemerintah Palestina, dan Hamas tidak mengubah kewajiban pihak mana pun.”

WHO Sebut 1 Anak Tewas Setiap 10 Menit di Gaza

Apa yang dimaksud dengan Konvensi Jenewa?

Pembunuhan enam juta orang Yahudi oleh Nazi di Eropa selama Perang Dunia Kedua pada tahun 1939-1945 menyebabkan perluasan undang-undang ini, serta berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Konvensi Jenewa 1949 mencakup empat prinsip utama:

1. Staf medis dan rumah sakit di zona perang harus dilindungi dan diizinkan bekerja dengan bebas.
2. Mereka yang terluka dalam pertempuran dan tidak lagi berperang berhak mendapatkan perawatan medis.
3. Tawanan perang harus diperlakukan secara manusiawi.
4. Pihak-pihak yang bertikai wajib melindungi warga sipil (termasuk larangan menargetkan infrastruktur sipil seperti pasokan listrik dan air).

Lebih lanjut soal pertikaian Israel-Hamas:

1. Pasukan Israel sudah berada di jantung Kota Gaza, apakah Gaza akan segera jatuh ke tangan Israel?.
2. Apa makna semangka bagi rakyat Palestina?.
3. Negara mana saja yang mengecam serangan Israel ke Gaza dan yang mendukung aksi Israel?.
4. Siapa Hamas? Bagaimana kiprahnya?.
5. Siapa saja para pimpinan penting Hamas?.

WHO Sebut 1 Anak Tewas Setiap 10 Menit di Gaza

Apa itu genosida?

Istilah ini diperkenalkan oleh pengacara Yahudi Polandia, Raphael Lemkin, yang kehilangan sebagian besar keluarganya dalam Holokos. Pada tahun 1948, Konvensi Genosida diadopsi oleh PBB.

“Kunci dari genosida adalah bahwa para pelakunya tidak hanya berniat membunuh individu atau anggota kelompok militer atau bersenjata, namun mereka berniat untuk benar-benar menghancurkan seluruh atau sebagian kelompok tersebut karena identitasnya,” kata Dr. Van Ho.

“Menunjukkan niat khusus untuk menghancurkan menjadikan genosida sebagai kejahatan internasional yang paling sulit dibuktikan.”

Genosida mencakup pembunuhan, pencegahan kelahiran, dan pemindahan anak-anak secara paksa.

Orang pertama yang dihukum terkait genosida adalah warga Rwanda, Jean-Paul Akayesu, pada tahun 1998 di Pengadilan Kriminal Internasional untuk Rwanda (ICTR) yang disponsori PBB.

Dia dinyatakan melakukan genosida atas perannya dalam pembunuhan massal orang Tutsi pada 1994 yang menyebabkan 800.000 orang tewas.

Dua kasus lainnya telah diadili di pengadilan yang didukung PBB, yakni pembantaian orang minoritas Cham dan Vietnam oleh Khmer Merah Kamboja pada tahun 1970-an dan pembantaian 8.000 pria dan anak laki-laki Muslim di Bosnia pada tahun 1995 di Srebrenica.

Apa saja kejahatan terhadap kemanusiaan?

Hal ini melibatkan penargetan warga sipil di mana kelompok etnis atau ras tertentu tidak diprioritaskan, tidak seperti genosida.

Kejahatan terhadap kemanusiaan melibatkan pembunuhan, deportasi, perbudakan, kekerasan seksual, apartheid, penyiksaan dan penghilangan paksa.

WHO Sebut 1 Anak Tewas Setiap 10 Menit di Gaza

Latar belakang konflik Israel-Palestina:

* Sejarah Deklarasi Balfour: 67 kata yang membentuk Negara Israel dan mengubah sejarah Bangsa Palestina.
* Sejarah konflik Palestina-Israel, pertikaian berkepanjangan yang berlangsung puluhan tahun.
* Israel-Palestina: Garis perbatasan dalam peta dari masa ke masa.
* Sejarah Jalur Gaza yang disebut penjara terbuka paling besar di dunia.

“Pertama, Anda harus membedakan antara serangan yang benar-benar ditujukan dan menargetkan penduduk sipil dan serangan yang merugikan warga sipil namun sebenarnya menargetkan seseorang yang ikut serta dalam konflik atau objek yang memang seperti itu, atau karena bagaimana itu digunakan untuk keperluan militer,” kata Dr Van Ho.

“Kedua, Anda harus mempunyai organisasi dalam serangan tersebut sehingga serangan tersebut tersebar luas atau sistematis dan orang-orang yang terlibat di dalamnya tahu bahwa mereka adalah bagian dari serangan ini.”

WHO Sebut 1 Anak Tewas Setiap 10 Menit di Gaza

Apa itu kejahatan perang?

Konflik bersenjata internasional atau domestik harus terjadi agar kejahatan perang dapat ditetapkan.

“Meskipun ada banyak sekali kejahatan perang yang berasal dari perjanjian yang berbeda, faktor yang paling umum adalah bahwa kejahatan perang adalah tindakan yang merugikan orang-orang yang seharusnya dilindungi atau membahayakan kemampuan organisasi kemanusiaan untuk melaksanakan pekerjaan mereka dengan baik,” kata Dr Van Ho.

Bagaimana kejahatan-kejahatan ini dituntut?

Mahkamah Internasional (ICJ) adalah bagian dari PBB. Suatu negara dapat mengajukan kasus serupa terhadap negara lain di pengadilan dunia ini.

Saat ini ICJ sedang menyelidiki apakah Myanmar melakukan genosida terhadap orang-orang Rohingya setelah memaksa hampir satu juta orang mengungsi pada tahun 2017 di tengah represi militer militer. Gambia yang memprakarsai kasus ini.

Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) dibentuk pada tahun 2002 untuk mengadili individu atas kejahatan ini.

Ini adalah pengadilan pilihan terakhir, yang hanya melakukan intervensi ketika otoritas nasional tidak dapat atau tidak mau melakukan penuntutan.

Amerika Serikat, China, Rusia, India dan Israel tidak menandatangani perjanjian ini, meskipun Otoritas Palestina bergabung pada tahun 2015.

Jaksa ICC Karim Khan baru-baru ini mengunjungi Mesir tetapi tidak bisa memasuki Gaza. Saat konferensi pers, dia menyampaikan peringatan ini kepada militer Israel.

“Mereka perlu menunjukkan bahwa setiap serangan yang berdampak pada warga sipil tak berdosa atau objek yang dilindungi, harus dilakukan sesuai dengan hukum dan adat kebiasaan perang,” katanya.

“Sehubungan dengan setiap rumah tinggal, sehubungan dengan sekolah mana pun, rumah sakit mana pun, gereja mana pun, masjid mana pun tempat-tempat itu dilindungi, kecuali status perlindungannya telah hilang.”

WHO Sebut 1 Anak Tewas Setiap 10 Menit di Gaza

“Beban untuk membuktikan bahwa status perlindungan telah hilang ada pada mereka yang menembakkan senjata, rudal, atau roket yang bersangkutan.”

Korban serangan Hamas di Israel juga telah mengajukan banding ke ICC untuk memulai penyelidikan, meskipun pemerintah mereka menentang pengadilan tersebut.

Yael Vias Gvirsman adalah pengacara pidana internasional sekaligus dosen di Universitas Reichmann yang terletak di dekat Tel Aviv.

Dia mewakili keluarga lebih dari 40 korban yang terbunuh, disandera, atau hilang.

Dia mengatakan kejahatan terhadap kemanusiaan telah dilakukan oleh Hamas dan kelompok Jihad Islam.

“Biarkan ICC memenuhi mandatnya untuk semua orang,” katanya kepada BBC.

“Para korban berhak mendapatkan kebenaran dan keadilan.”

Dr Van Ho mengatakan upaya mencapai akuntabilitas tidak pernah sia-sia, namun ia juga sadar akan dinamika kekuasaan yang terjadi.

“Hambatan yang signifikan bagi ICC adalah bahwa sebagian informasi yang dibutuhkan hanya dimiliki oleh negara atau kelompok bersenjata, dan mereka tidak mungkin memberikan informasi tersebut secara sukarela,” katanya.

Dr Van Ho juga khawatir bahwa ini akan menjadi “perjuangan berat untuk mencapai akuntabilitas dan keadilan ketika negara-negara terkait ingin melindungi kepentingan mereka sendiri terlebih dahulu.

“Sayangnya, kita menyaksikan warga sipil menanggung akibatnya atas pilihan-pilihan tersebut.”

WHO Sebut 1 Anak Tewas Setiap 10 Menit di Gaza

WHO sebut Setiap hari Sekitar 160 anak terbunuh di Gaza

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Selasa (7/11) mengatakan bahwa sekitar 160 anak tewas setiap harinya di Gaza, di mana serangan Israel telah mencapai waktu satu bulan.

“Rata-rata sekitar 160 anak terbunuh setiap hari berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan (Palestina),” kata pejabat WHO Christian Lindmeier dalam konferensi PBB di Jenewa.

Lindmeier menegaskan kembali “kebutuhan mendesak” akan bantuan kemanusiaan untuk meringankan penderitaan.

“Ribuan orang di Gaza meninggal dunia, dan mereka yang masih hidup menderita trauma, penyakit, kekurangan makanan dan air,” katanya.

“Mereka butuh air, bahan bakar, makanan dan akses yang aman terhadap layanan kesehatan untuk bertahan hidup,” lanjut Lindmeier.

“Semuanya sudah siap,” katanya, mencatat bahwa logistik, konvoi dan perbekalan sudah siap.

Namun, “yang tidak ada adalah akses dan itulah yang diperlukan. Kami memerlukan akses yang aman dan terjamin tanpa hambatan ke pasien dan ke rumah sakit. Menyeberang masuk ke Gaza adalah satu hal, langkah selanjutnya adalah mencapai rumah sakit dan tempat perbekalan.”

Mengenai rumah sakit di wilayah utara, dia mengatakan bahwa WHO mampu membawa pasokan ke rumah sakit hanya “sekali”.

“Persediaan telah diambil dari tangan kami dan segera dibawa ke ruang operasi karena semua yang dibawa, termasuk anestesi, yang diperlukan pada saat itu juga,” kata Lindmeier.

WHO Sebut 1 Anak Tewas Setiap 10 Menit di Gaza

Saat ditanya mengenai klaim Israel bahwa rumah sakit di Gaza menjadi sasaran akibat adanya terowongan Hamas di bawah rumah sakit, dia berkata: “Sebagai WHO, kami tidak dapat memverifikasi apa yang ada di bawah rumah sakit. Yang kami bisa verifikasi adalah apa yang ada di dalam rumah sakit dan di atas tanah dan hal tersebut sangat membutuhkan fasilitas medis.”

Jalur Gaza telah dibom secara besar-besaran sejak kelompok Hamas melancarkan serangan mendadak terhadap Israel pada 7 Oktober.

Setidaknya 10.328 warga Palestina, termasuk 4.327 anak-anak dan 2.719 perempuan, telah tewas sejak serangan balik tersebut.

Sementara itu, jumlah kematian dari pihak Israel, menurut data resmi hampir mencapai 1.600 orang.

Sekjen PBB Antonio Guterres telah mengatakan bahwa “Gaza menjadi kuburan bagi anak-anak,” karena ratusan anak perempuan dan laki-laki tewas atau terluka setiap hari.

Mencapai satu bulan, 70 persen populasi di Gaza telah mengungsi, menurut badan PBB untuk Palestina, UNRWA.

“Hal ini terjadi seiring dengan ketakutan terus menerus dan kondisi kehidupan yang tidak manusiawi bagi hampir 1,5 juta orang. Tempat perlindungan UNRWA telah mencapai 4 kali lipat dari batas kapasitasnya. Para warga sipil menjadi sasaran pemindahan paksa dan hukuman kolektif,” kata UNRWA dalam sebuah pernyataan.

WHO Sebut 1 Anak Tewas Setiap 10 Menit di Gaza

Share: