Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

WHO Bicara soal Varian Pirola BA-2-86 Pemicu Kasus COVID-19 Naik Lagi

WHO Bicara soal Varian Pirola BA-2-86 Pemicu Kasus COVID-19 Naik Lagi – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menaikkan status varian Corona BA.2.86 dari golongan ‘Variant of Interest’ (VoI) ke ‘Variant under Monitoring’, meskipun risiko varian ini disebutnya rendah.

WHO Bicara soal Varian Pirola BA-2-86 Pemicu Kasus COVID-19 Naik Lagi

WHO Bicara soal Varian Pirola BA-2-86 Pemicu Kasus COVID-19 Naik Lagi

Lantas jika risiko fatalitas penyebaran varian Corona ini tak perlu dikhawatirkan, mengapa WHO memperbaharui levelnya?

“Kami telah melihat peningkatan yang lambat dan stabil dalam deteksi penyakit ini di seluruh dunia,” ungkap pimpinan teknis WHO untuk COVID-19, dr Maria Van Kerkhove, Senin (4/12/2023).

“Dengan mengkarakterisasinya sebagai varian yang diminati sangat membantu mendorong pengawasan terhadap varian jenis ini di seluruh dunia serta merangsang penelitian,” imbuhnya seraya menegaskan.

Penting untuk memahami lebih lanjut apakah varian BA.2.86 menyebabkan penyakit yang lebih parah atau mampu menghindari dari kekebalan tubuh.

BA.2.86, yang oleh sebagian pengamat virus dijuluki Pirola, memiliki genetik yang sangat berbeda dari virus penyebab COVID-19 sebelumnya.

Lantaran varian ini memiliki lebih dari 30 mutasi pada protein lonjakannya, para ilmuwan khawatir virus ini akan melampaui kekebalan vaksinasi dan infeksi sehingga memicu gelombang COVID-19 baru.

Namun yang kini masih menjadi tanda tanya buat para peneliti, penyebaran BA.2.86 tidak berkembang layaknya Omicron pertama.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa seiring berkembangnya semua mutasi baru, varian ini kehilangan sebagian kemampuannya untuk menginfeksi sel manusia, sehingga pertumbuhannya pun melambat.

Ahli virologi komputasi di Fred Hutchinson Cancer Center di Seattle, dr Jesse Bloom, menyebut BA.2.86 terus berevolusi dan berpotensi menciptakan keturunan yang lebih kuat.

Menurutnya, mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di Universitas Columbia dan di China, ditemukan bahwa varian JN.1 memiliki satu perubahan kode genetik, yang membuatnya lebih mampu lolos dari pertahanan kekebalan tubuh.

“Dari segi kebugaran, yang kami lihat adalah JN.1 meningkat jumlahnya lebih cepat dibandingkan induknya, BA.2.86,” tutur Bloom.

“Dari sudut pandang ilmiah, semua varian ini sedang berpindah-pindah, dan saya dapat melihat salah satu keluarga tersebut menyebar. Sulit untuk mengatakan apa sebenarnya dampaknya terhadap jumlah kasus COVID dan beban penyakit COVID pada musim dingin ini,” pungkasnya.

WHO Bicara soal Varian Pirola BA-2-86 Pemicu Kasus COVID-19 Naik Lagi

COVID Pirola atau BA.2.86 Punya Kemampuan Lebih Tinggi Menginfeksi Orang yang Sudah Punya Kekebalan

Epidemiolog Dicky Budiman mengatakan kehadiran subvarian maupun varian baru penyebab COVID-19 untuk saat ini tak terelakkan.

Hal ini lantaran virus tersebut belum masuk fase stabil. Maka tak heran, jika baru-baru ini muncul subvarian BA.2.86 atau disebut Pirola.

Menurut jurnal medis The BMJ pada 24 Agustus 2023, BA.2.86 memiliki 34 lebih banyak mutasi dibandingkan BA.2. Seperti diketahui, BA.2 menyebabkan lonjakan kasus COVID pada tahun 2022.

Para pemerhati kesehatan dan ahli virus memberi perhatian lebih terhadap subvarian ini lantaran kemampuan Pirola dalam melakukan breakthrough infections lebih tinggi dibandingkan varian lainnya.

“Kasus breakthrough infections ini artinya orang yang sudah punya kekebalan (sudah divaksinasi maupun dapat kekebalan alami) masih bisa terinfeksi,” kata peneliti di Center for Environmental and Population Health Griffith University Australia ini.

“Kasus breakthrough infections akibat BA.2.86 jauh lebih tinggi dibandingkan subvarian lain,” lanjut Dicky lewat rekaman suara ke Health-Liputan6.com pada Rabu (6/9/2023).

Ketika sebuah varian atau subvarian virus COVID memiliki kemampuan breakthrough infections yang tinggi maka menyebabkan kasus re-infeksi semakin tinggi.

Saat ini testing COVID-19 yang rendah maka ketika terkena tidak menyadari bahwa sudah terinfeksi Corona.

Jadi, kata Dicky, jangan heran ketika makin banyak orang alami gejala mirip flu atau mirip ISPA yang semakin banyak di era Pirola ini.

WHO Bicara soal Varian Pirola BA-2-86 Pemicu Kasus COVID-19 Naik Lagi

Risiko Long COVID

Soal Pirola, Dicky mengatakan yang jadi perhatian bukan soal keparahan bila terinfeksi subvarian ini. Melainkan mengenai risiko bila orang terinfeksi COVID-19 lagi dan lagi. Hal ini bisa berimbas terjadinya Long COVID.

“Jadi, jangan dianggap orang makin sering kena COVID-19 makin kebal, malah makin rusak itu sistem imun tubuhnya,” tegas Dicky.

Meski tidak semua orang yang terkena COVID-19 alami Long COVID tapi paling tidak ada 15-20 persen yang mengalami dampak berkepanjangan akibat terapar virus SARS-CoV-2.

“Ketika Long COVID kena pada generasi produktif, ya jadinya enggak produktif,” kata Dicky lagi.

Kasus Pirola di Dunia

BA.2.86 pertama kali terdeteksi pada Juli. Sejak saat itu menyebabkan infeksi pada puluhan orang di 9 negara per 4 September 2023 berdasarkan data GISAID.

Masih berdasarkan data GISAID, kasus BA.2.86 terbanyak di Denmark dengan 12 kasus. Disusul Swedia (5), Amerika Serikat (4), Afrika Selatan (3).

Lalu, masing-masing dua kasus di Prancis, Inggris, Portugal. Kemudian Israel dan Kanada masing-masing terdata 1 kasus.

Pada kasus yang di Inggris, ternyata tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri. Ini menunjukkan bahwa kemungkinan varian tersebut sudah menyebar di sana seperti mengutip laporan The BMJ.

WHO Bicara soal Varian Pirola BA-2-86 Pemicu Kasus COVID-19 Naik Lagi

COVID Varian BA.2.86 Pirola Punya Lebih dari 30 Mutasi, 4 Gejala Ini Perlu Diperhatikan

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan US Centers for Disease Control and Prevention (CDC) sedang melacak COVID varian BA.2.86, yang telah ditemukan dalam jumlah yang sangat kecil di Amerika Serikat (AS), Inggris, Denmark, dan Israel.

WHO pada 17 Agustus 2023 mengklasifikasikan varian BA.2.86 menjadi ‘varian yang sedang dipantau’ (Variant Under Monitoring/VUM).

Varian yang diduga berasal dari garis keturunan BA.2 Omicron ini diketahui memiliki lebih dari 30 mutasi.

Oleh karena itu, lebih penting dari sebelumnya untuk menyadari gejala-gejala yang muncul agar tetap waspada terhadap varian baru ini.

Berikut ini gejala-gejala utama varian BA.2.86 yang perlu diperhatikan sebagaimana gejala COVID pada umumnya:

* demam tinggi
* batuk
* pilek
* hilangnya indera perasa atau penciuman

WHO Bicara soal Varian Pirola BA-2-86 Pemicu Kasus COVID-19 Naik Lagi

Bos WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, melakukan tes dan kewaspadaan sangat penting dalam memerangi virus Corona.

Dengan demikian, sangatlah penting jika masyarakat melakukan tes bila mengalami gejala COVID di atas.

“Kita tidak akan tahu, apakah virus Corona ini berubah, jika kita tidak melakukan pengujian yang cukup. Pengujian sangat penting untuk melihat bagaimana virus ini berevolusi,” katanya.

Belum Ada Tanda-Tanda Lebih Berbahaya

Sampai saat ini, belum ada tanda-tanda bahwa varian BA.2.86 yang dijuluki Pirola lebih berbahaya daripada subvarian yang sudah ada sebelumnya – meskipun diperkirakan lebih mudah menyebar.

Juru Bicara CDC Kathleen Conley mengatakan dalam sebuah pernyataan, AS lebih siap mendeteksi varian SARS-CoV-2 dengan garis keturunannya.

“Hari ini, kami lebih siap dari sebelumnya untuk mendeteksi dan merespons perubahan virus COVID-19,” katanya.

“Para ilmuwan sekarang bekerja untuk memahami lebih lanjut tentang garis keturunan yang baru diidentifikasi dalam 4 kasus ini dan kami akan membagikan lebih banyak informasi jika sudah tersedia.”

Butuh Pemantauan Lebih Ketat

Ahli epidemiologi WHO Maria Van Kerkhove menjelaskan, informasi tentang varian BA.2.86 terbatas karena ia mengklaim sejumlah mutasi membutuhkan pemantauan yang lebih ketat lantaran banyaknya mutasi.

Kemungkinan Lolos dari Antibodi

Sementara ahli biologi evolusi di Fred Hutch Cancer Centre Jesse Bloom berpendapat kemungkinan COVID BA.2.86 bisa lolos dari antibodi yang sudah terbentuk oleh varian Omicron lainnya.

“Pemindaian mutasi yang mendalam mengindikasikan varian BA.2.86 akan memiliki kemungkinan yang sama atau lebih besar untuk lolos dari antibodi yang ditimbulkan oleh varian Omicron pra-Omicron dan Omicron generasi pertama,” ucapnya.

Berita tentang varian COVID BA.2.86 ini muncul ketika seruan untuk kembali menggunakan masker di AS meningkat, menyusul peningkatan 12 peren dalam rawat inap terkait COVID.

Pada 17 Agustus 2023, CDC menemukan kasus keempat yang positif BA.2.86 di Michigan, AS.

WHO Bicara soal Varian Pirola BA-2-86 Pemicu Kasus COVID-19 Naik Lagi

Share: