Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Kisah Ahli Perburuan Arkologis Sisa-sisa Bahtera Nuh Nabi ke-3

Kisah Ahli Perburuan Arkologis Sisa-sisa Bahtera Nuh Nabi ke-3

Kisah Ahli Perburuan Arkologis Sisa-sisa Bahtera Nuh Nabi ke-3 – Cerita tentang Nabi Nuh yang diamanahkan oleh Tuhan untuk membangun sebuah bahtera untuk menyelamatkan dirinya, kaumnya, dan berbagai hewan dari air bah, merupakan salah satu kisah paling menarik yang terdapat dalam kitab-kitab agama samawi.

Kisah Ahli Perburuan Arkologis Sisa-sisa Bahtera Nuh Nabi ke-3
Kisah Ahli Perburuan Arkologis Sisa-sisa Bahtera Nuh Nabi ke-3

Kisah Ahli Perburuan Arkologis Sisa-sisa Bahtera Nuh Nabi ke-3

Meskipun sudah sejak lama sejumlah ahli berusaha mencari bukti konkrit mengenai keberadaan sisa-sisa bahtera tersebut, namun apakah ada bukti yang konkret?

Alur cerita yang disampaikan dalam kitab-kitab agama tersebut umumnya serupa; Tuhan murka terhadap kelakuan buruk kaum yang tidak taat, sehingga Dia memutuskan untuk mengirimkan banjir besar untuk menghukum mereka.

Dalam konteks ini, Nabi Nuh diutus untuk memberikan dakwah kepada kaumnya, namun mereka tetap bersikeras dalam kemaksiatan mereka.

Untuk menyelamatkan diri dan pengikutnya, Nabi Nuh diperintahkan untuk membuat sebuah bahtera besar. Meskipun pada awalnya proyek tersebut ditertawakan oleh kaumnya.

Nabi Nuh akhirnya berhasil menyelamatkan mereka yang beriman, bersama dengan sepasang hewan dari berbagai jenis, dari malapetaka air bah yang menghantam.

Banyak legenda yang tersebar di berbagai negara mengklaim mengetahui lokasi pendaratan bahtera tersebut setelah air bah surut.

Salah satu klaim terkenal adalah adanya cerita yang mengaitkan bahtera itu dengan lereng Gunung Agri di Turki.

Kisah Ahli Perburuan Arkologis Sisa-sisa Bahtera Nuh Nabi ke-3
Temukan Bukti Baru Bahtera Nabi Nuh

Lokasi sisa bahtera

Melansir dari National Geographic, upaya pencarian arkeologis terkait sisa-sisa bahtera Nuh yang diyakini sebagai milik Nabi Nuh telah dilakukan selama lebih dari satu abad.

Penelusuran ini dimulai dari keberadaan bukti-bukti tentang kejadian banjir besar yang tercatat dalam berbagai sumber sejarah kuno.

Kisah mengenai air bah ini memiliki catatan sejak zaman kuno, terdapat dalam bagian tertua Alkitab yang berasal dari abad ke-8 SM, serta dalam cerita-cerita sejenis dari era Mesopotamia yang lebih kuno lagi.

Menurut Eric Cline, seorang arkeolog dari Universitas George Washington, ada kemungkinan adanya bukti geologis yang menopang kejadian banjir besar tersebut.

Dia menyatakan bahwa tampaknya ada bukti geologis yang menunjukkan adanya banjir besar di wilayah Laut Hitam sekitar 7.500 tahun yang lalu.

Penemuan ini menjadi salah satu petunjuk penting dalam upaya mencari sisa-sisa bahtera yang menjadi ikonik dalam kisah Nabi Nuh.

Meskipun demikian, para akademisi masih terlibat dalam perdebatan mengenai keberadaan banjir besar tersebut.

Sejumlah pandangan berbeda muncul, mengemukakan bahwa kemungkinan yang lebih realistis adalah terjadinya banjir besar di tempat dan waktu yang berbeda.

Peristiwa terpisah ini kemudian secara alami menjadi bagian dari tradisi lisan dan tertulis dari berbagai peradaban dunia.

Langkah berikutnya dalam penelusuran adalah menentukan lokasi di mana Bahtera Nabi Nuh mendarat setelah banjir besar. Ahli-ahli ilmu pun memiliki pendapat yang beragam mengenai lokasi tersebut.

Kisah Ahli Perburuan Arkologis Sisa-sisa Bahtera Nuh Nabi ke-3
Sisa-sisa Bahtera Nuh di Gunung Ararat Turki

Dalam Kitab Kejadian di Alkitab, disebutkan bahwa bahtera itu mendarat “di atas pegunungan Ararat” yang berada di wilayah yang kini meliputi Armenia, sebagian Turki timur, dan Iran.

“Tidaklah mudah untuk menetapkan tempat persis di Timur Dekat kuno itu terjadi,” kata Jodi Magness, seorang arkeolog dari University of North Carolina.

Pada tahun 1876, James Bryce, seorang pengacara dan politisi Inggris, melakukan pendakian ke Gunung Ararat, Armenia. Gunung ini dianggap sebagai lokasi terdamparnya bahtera Nuh berdasarkan Alkitab.

Bryce bahkan mengklaim menemukan sepotong kayu yang “sesuai dengan semua persyaratan kasus” bahtera tersebut.

Klaim lainnya berasal dari seorang dokter mata yang melihat formasi batuan di puncak gunung pada tahun 1940-an, hingga klaim seorang pendeta tentang temuan kayu yang terpetrifikasi di puncak gunung pada tahun 2000-an.

Paling baru, sebuah tim dari Universitas Teknik Istanbul (ITU) dan Universitas Ağrı İbrahim Çeçen (AİÇÜ) melakukan penelitian di area yang diduga sebagai sisa-sisa Bahtera Nuh di Gunung Ağrı, Turki.

Penelitian ini didasarkan pada temuan insinyur peta Kapten Ilhan Durupınar pada tahun 1959 saat melakukan penerbangan untuk memetakan wilayah timur Anatolia.

Daerah ini dianggap berbahaya karena ancaman tanah longsor dan ceruk besar yang terbentuk di dekatnya.

Mereka melakukan pemeriksaan terhadap sampel fragmen tanah dan batuan yang diambil dari lapangan.

“Hasil pemeriksaan laboratorium mungkin akan selesai dalam satu setengah sampai dua bulan. Berdasarkan hasil ini, kami akan menentukan rencana selanjutnya,” kata profesor Faruk Kaya, wakil rektor AICU.

Kisah Ahli Perburuan Arkologis Sisa-sisa Bahtera Nuh Nabi ke-3
Bukti autentik Nuh

Bukti autentik

Cline dan Magness setuju bahwa meskipun ada artefak dari bahtera tersebut, akan sulit untuk secara meyakinkan menghubungkannya dengan peristiwa sejarah.

“Kami tidak memiliki cara untuk memetakan Nuh, jika dia benar-benar ada, dan banjir besar, jika memang terjadi, dalam konteks ruang dan waktu. Satu-satunya cara untuk membuktikannya adalah dengan memiliki prasasti kuno yang otentik,” kata Magness.

Meskipun telah dilakukan berbagai riset dan klaim, para arkeolog menegaskan bahwa belum ada bukti autentik dalam bidang arkeologi yang mendukung temuan sisa-sisa bahtera Nuh.

“Tidak ada arkeolog yang kredibel yang terlibat dalam pencarian ini,” kata Magness.

“Ilmu arkeologi bukanlah tentang mencari harta karun,” tambahnya. “Ini merupakan sebuah ilmu pengetahuan di mana kita merumuskan pertanyaan penelitian yang kita harap dapat dijawab melalui penggalian.”

Meskipun demikian, absennya bukti arkeologis tidak selalu menunjukkan bahwa suatu cerita atau tokoh itu tidak pernah ada.

“Ketidakhadiran bukti tidak berarti bahwa seseorang tidak ada pada masa itu. Hal itu mengindikasikan bahwa individu tersebut, seperti 99,99 persen orang lain di dunia pada masa itu, tidak meninggalkan jejak yang terdokumentasi secara arkeologis,” ungkap profesor studi agama dari Universitas North Carolina, Bart D. Ehrman, ketika membahas bukti arkeologi tentang keberadaan Yesus.

Kisah Ahli Perburuan Arkologis Sisa-sisa Bahtera Nuh Nabi ke-3
Sisa-sisa Bahtera Nuh
Share: