Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Kasus Cacar Mpox di RI Kini Tembus 30 Kasus

Kasus Cacar Mpox di RI Kini Tembus 30 Kasus – Kasus cacar monyet atau Mpox tercatat terus bertambah setiap hari. Berdasarkan data harian pada Selasa (31/11/2023), ada penambahan dua kasus baru, berdomisili di DKI Jakarta.

Kasus Cacar Mpox di RI Kini Tembus 30 Kasus

Kasus Cacar Mpox di RI Kini Tembus 30 Kasus

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI dr Maxi Rein Rondonuwu menyebut total pasien Mpox sejauh ini nyaris mencapai 30 orang.

“Tambah 2 kasus baru dari DKI menjadi 29 kasus,” konfirmasi dr Maxi saat dihubungi detikpulsa Rabu (1/11).

Kedua pasien masih berada di rentang usia pria dewasa. Mereka termasuk kelompok rentan yakni LSL. Penularan terjadi melalui aktivitas seks.

dr Maxi menyebut sejauh ini tidak ada pasien bergejala berat yang dilaporkan. Meski begitu, dirinya mewanti-wanti masyarakat untuk menghindari segala risiko transmisi termasuk dari benda yang terkontaminasi.

Pasalnya, masa inkubasi Mpox relatif jauh lebih lama ketimbang COVID-19.

Bisa enam hingga 13 hari, tetapi beberapa kasus juga dilaporkan baru mengalami gejala pasca lima sampai 21 hari terpapar.

“Semua pasien bergejala ringan, kondisinya stabil,” demikian penegasan dr Maxi.

Epidemiolog Soroti Kasus Mpox RI ‘Meroket’, Ada Risiko Menular ke Anak

Pakar epidemiologi menyebut penularan kasus Mpox atau cacar monyet di Indonesia bak ‘bom waktu’.

Transmisi lokal diyakini sudah terjadi sejak tahun lalu, tetapi tidak banyak dari mereka yang berada di kelompok rentan, melaporkan keluhannya ke fasilitas kesehatan.

Jika tren penularan terus meningkat, bukan tidak mungkin Indonesia kemudian bisa menyusul Afrika, menjadi wilayah endemis Mpox.

“Karena dia kan aslinya penyakit yang ditularkan dari hewan, termasuk zoonosis, yang dalam hal ini kera,” wanti-wanti Dicky, saat dihubungi Selasa (31/10/2023).

Kasus Cacar Mpox di RI Kini Tembus 30 Kasus

Ditemukan 1 Kasus Cacar Monyet di Bandung, Kemenkes: Kasus Mpox Sekarang Sudah Ada 21

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI Siti Nadia Tarmizi mengatakan, ditemukan satu kasus cacar monyet atau Monkeypox di Bandung, Jawa Barat.

Dengan demikian, total kasus Mpox di Indonesia menjadi 21 kasus.

“Kasus Mpox sekarang sudah ada 21 kasus. Selain dari Jakarta dan Tangerang Selatan, ada temuan satu kasus di Bandung,” kata Nadia di Jakarta, Minggu (29/10), dilansir Antara.

Meski demikian, Nadia tidak merinci lebih lanjut mengenai kondisi pasien maupun lokasi dari kasus cacar monyet di Bandung.

Menurut nadia, jumlah kasus Mpox telah bertambah dari laporan sebelumnya per 27 Oktober 2023 yang mencapai 17 kasus dan seluruhnya berasal dari DKI Jakarta.

Hasil penelusuran kontak erat dari 21 kasus cacar monyet, kata Nadia, seluruhnya masih dinyatakan negatif.

“Hasil kontak masih negatif,” tuturnya.

Sementara itu, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) menginformasikan, per 13 Oktober 2023 terdapat 15 orang dengan kasus positif cacara monyet. Satu kasus diantaranya dinyatakan sembuh pada Agustus 2022.

Ketua Satgas Mpox PB IDI Hanny Nilasari mengatakan, seluruh pasien positif bergejala ringan dan tertular secara kontak seksual. Pasien seluruhnya berjenis kelamin laki-laki usia 25-50 tahun.

Data DKI Jakarta juga menyebutkan, terdapat 20 orang dengan hasil PCR negatif dan 2 orang lainnya masih menunggu hasil PCR.

Kasus Cacar Mpox di RI Kini Tembus 30 Kasus

Hindari Perilaku Seks Berisiko

Lebih dari 90 persen kasus Mpox di dunia, kata Hanny, dilaporkan pada populasi khusus yaitu homoseksual dan biseksual.

Hanny menyarankan, populasi risiko tinggi misalnya memiliki multipartner, dan kondisi imunokompromais (autoimun, penyakit kronis lainnya) sedapat mungkin menghindari perilaku yang berisiko.

“Hubungan seksual harus dilakukan dengan aman, menggunakan kondom serta lakukan vaksinasi,” ucapnya.

Diketahui, Kemenkes juga telah menyediakan vaksinasi Mpox dan telah diberikan pada 251 orang dari target 495 orang.

Indonesia Bakal Dapat Vaksin Mpox dari ASEAN

Indonesia akan mendapat kiriman 2.000 dosis vaksin cacar monyet atau Monkeypox dari ASEAN. Vaksin tambahan ini direncanakan datang dalam waktu dekat.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI Maxi Rein Rondonuwu mengungkapkan, kiriman 2.000 dosis vaksin cacar monyet itu termasuk bantuan dari ASEAN.

“Kemarin malam, kami mengadakan rapat dengan Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan (Farmalkes). Ini kan karena vaksinnya terbatas, tapi kita dapat bantuan ASEAN, ada 2.000-an dosis,” ungkap Maxi saat Konferensi Pers: Update Penanganan kasus Mpox di Indonesia, Kamis (26/10/2023).

“Katanya itu untuk dikirim ke Indonesia. Saya kira dalam waktu dekat, kita ada 2.000-an vaksin.”

Kasus Cacar Monyet di Indonesia Diprediksi hingga 3 Ribu Kasus Dalam Setahun
Mengenai kasus cacar monyet di Indonesia, Kemenkes memprediksi bisa tembus hingga lebih dari 3.000 kasus dalam setahun.

Prediksi ini disampaikan melalui hasil pertemuan antara Kemenkes bersama para epidemiolog beberapa waktu silam.

Menurut Maxi, angka tersebut dihitung dari jumlah populasi kunci yang berisiko seperti Lelaki Suka Lelaki (LSL) dan biseksual.

“Kalau saya ditanya prediksi. Kami kemarin mengundang epidemiolog. Mereka dengan menggunakan rate yang terjadi itu memperkirakan kasus dihitung dari jumlah populasi kunci, itu bisa sampai 3600-an orang ya,” papar Maxi saat Konferensi Pers: Update Penanganan kasus Mpox di Indonesia, Kamis (26/10/2023).

“Nah, itu kalau tidak dilakukan intervensi dengan baik, terutama edukasi pada mereka. Vaksinasi oke, tapi yang paling utama itu edukasi,” lanjut Maxi.

Kasus Cacar Mpox di RI Kini Tembus 30 Kasus

Kasus Mpox di DKI Bertambah, Tertular Lewat Kontak Seksual

Kementerian Kesehatan RI kembali melaporkan penambahan dua kasus cacar monyet atau Mpox di Kamis (26/10/2023).

Dua pasien yang teridentifikasi masih berdomisili di DKI Jakarta, jika diakumulasi sejak satu kasus ditemukan pada 2022, hingga kini totalnya mencapai 17 orang.

Satu kasus di 2022 dinyatakan sembuh, sementara 16 pasien masih menjalani perawatan dan isolasi di RS.

“Ada 16 orang kasus aktif, positivity rate PCR 44 persen, semuanya bergejala ringan,” beber juru bicara Kemenkes RI dr Mohammad Syahril kepada detikcom, Jumat (27/11/2023).

“Semua tertular dari kontak seksual,” tegas dr Syahril.

Karenanya, pemerintah mengimbau untuk kelompok rentan yang berisiko terpapar Mpox yakni LSL dan memiliki riwayat berhubungan seks dalam dua pekan terakhir, untuk melakukan tes sedini mungkin, juga mengikuti program vaksinasi yang sudah tersedia di sejumlah puskesmas.

Hingga kini, pihak Dinas Kesehatan DKI Jakarta sudah melakukan vaksinasi hampir 50 persen mencapai target, yakni 251 dari 495 orang.

Usia pasien baru Mpox di 2023, berada di rentang 25 hingga 50 tahun dengan rincian laporan seperti berikut:

1 kasus 13 Oktober 2023 (isolasi RS)
1 kasus 19 Oktober 2023 (isolasi RS)
5 kasus 21 Oktober 2023 (isolasi RS)
2 kasus 23 Oktober 2023 (isolasi RS)
3 kasus 24 Oktober 2023 (isolasi RS)
2 kasus 25 Oktober 2023 (isolasi RS)
2 kasus 26 Oktober 2023 (isolasi RS)

Dari keseluruhan kontak erat, ditemukan sembilan orang lain diduga terpapar Mpox lantaran menunjukkan gejala.

Seluruhnya masih termasuk kategori suspek, sementara 20 orang lain dari hasil penelusuran tracing dinyatakan discarded alias negatif Mpox.

Kasus Cacar Mpox di RI Kini Tembus 30 Kasus

Estimasi kasus Mpox di RI

Kasus Mpox di RI bisa jadi lebih banyak dari yang tercatat secara resmi. Kemenkes RI mengungkap estimasi kasus cacar monyet atau Mpox di Indonesia bahkan bisa menembus 3.600 pasien.

Perhitungan yang didapat para epidemiolog tersebut mengacu pada tren penularan di Inggris, yang dikaitkan dengan data populasi kunci di Tanah Air seperti LSL hingga orang dengan HIV.

“Kami kemarin mengundang para epidemiolog, mereka mencoba menggunakan rate yang terjadi di Inggris itu, mereka memperkirakan kasus kita itu, dengan jumlah populasi kunci bisa sampai 3.600 orang,” beber Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) dr Maxi Rein Rondonuwu, dalam konferensi pers Kamis (26/10/2023).

“Kalau tidak ada intervensi dengan baik, terutama edukasi pada mereka, terutama edukasi perilaku bersih dan sehat. Seperti jangan berhubungan seks saat ada gejala, atau saat tidak ada gejala hubungan seks yang aman menggunakan kondom,” pesan dia.

dr Maxi menyebut dari seluruh pasien Mpox yang teridentifikasi, hanya satu orang yang dinyatakan asimptomatik alias tanpa gejala. Sisanya, mengeluhkan lesi di kulit, hingga badan terasa kelelahan.

“Semua bergejala ada 14. Hanya 1 yang asimptomatik. Jadi ada paling banyak itu ada lesi pada kulit, disertai demam, ada pembengkakan kelenjar terutama di pangkal paha, sakit menelan, nyeri tenggorokan, ada sakit otot myalgia, kemudian ada menggigil, badan terasa sakit kelelahan,” ujarnya dalam konferensi pers virtual, Kamis (26/10/2023).

“Sakit belakang, mual, ada yang sampai diare dan nyeri di mulut. Ini kasus umumnya monkeypox, tapi yang spesifik yaitu disampaikan untuk membedakannya dengan yang lain ada limadenopati,” beber dr Maxi.

Rincian sebaran gejala pasien di DKI meliputi:

Lesi: 12
Demam: 12
Limfadenopati: 10
Nyeri Tenggorokan: 9
Ruam: 8
Myalgia: 7
Sulit Menelan: 7
Menggigil: 5
Arthralgia: 5
Nyeri pada Anogenital: 5
Fatigue: 4
Batuk: 4
Backpain: 3
Mual: 3
Asthenia: 3
Radang di Genital: 3
Mata Nyeri: 1
Diare: 1
Nyeri di Mulut: 1
Perdarahan: 1

Kasus Cacar Mpox di RI Kini Tembus 30 Kasus

Warning, Prediksi Kasus Cacar Monyet di Indonesia Bisa Tembus 3.600 Setahun

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memprediksi kasus cacar monyet di Indonesia bisa menembus angka lebih dari 3.000 dalam setahun.

Prediksi ini disampaikan melalui hasil pertemuan antara Kemenkes bersama para epidemiolog beberapa waktu silam.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI Maxi Rein Rondonuwu mengatakan, prediksi jumlah kasus Mpox bisa 3.600.

Angka ini dihitung dari jumlah populasi kunci yang berisiko seperti Lelaki Suka Lelaki (LSL) dan biseksual.

“Kalau saya ditanya prediksi. Kami kemarin mengundang epidemiolog. Mereka dengan menggunakan rate yang terjadi itu memperkirakan kasus dihitung dari jumlah populasi kunci, itu bisa sampai 3600-an orang ya,” papar Maxi saat Konferensi Pers: Update Penanganan kasus Mpox di Indonesia, Kamis (26/10/2023).

“Nah, itu kalau tidak dilakukan intervensi dengan baik, terutama edukasi pada mereka. Vaksinasi oke, tapi yang paling utama itu edukasi,” lanjut Maxi.

Varian Virus Mpox Ringan

Walaupun kasus Mpox diprediksikan mencapai 3.000-an, Maxi turut menyampaikan kabar baik.

Bahwa varian virus Mpox menginfeksi kasus di Indonesia, khususnya di DKI Jakarta terbilang ringan.

“Tapi yang menggembirakan ya kita termasuk atau mungkin varian virus cacar monyet yang kena kita ini ringan dan rata-rata pasien yang positif sekarang, kondisinya stabil,” lanjutnya.

Jaga Hidup Bersih

Kemunculan kembali kasus Mpox di Indonesia, Maxi Rein Rondonuwu mengingatkan masyarakat untuk menjaga pola hidup sehat. Selain itu, ia juga mengingatkan soal perilaku hubungan seksual yang aman.

“Kemudian jangan melakukan hubungan seksual kalau ada gejala atau yang aman menggunakan kondom. Kalau prediksi dari teman-teman epidemiolog, perkiraan bisa jadi 3.600 kasus ya,” pungkasnya.

Selanjutnya, pertanyaan menyeruak, apakah temuan kasus Mpox dapat berpotensi ke luar Jakarta?

Maxi menjawab, potensi itu tetap ada.

“Itu bisa memungkinkan, karena kami sangat butuh sekali keterbukaan dari kelompok-kelompok yang positif ini. Berhubungan dengan siapa gitu, ya barangkali ada temannya dari Bali yang datang bertemu,” ucapnya.

Keterbukaan untuk Tracing

Maxi Rein Rondonuwu menilai keterbukaan terhadap pasien positif Mpox yang berkontak dengan siapa saja dapat mempermudah surveilans.

Penelusuran (tracing) bisa mendeteksi siapa saja kontak erat, yang kemudian diambil sampel untuk diperiksa.

“Yang paling utama soal keterbukaan. Jadi mereka terbuka itu gampang sekali melakukan tracing, di mana dia kan sulit Tapi kalau saya tadi sudah mengirim Surat Edaran Kewaspadaan Mpox ke semua fasilitas kesehatan,” terangnya.

“Semua faskes sudah dikirim.”

Lakukan Penyelidikan Epidemiologi

Kemenkes terus memperkuat penemuan kasus aktif, melakukan deteksi, dan surveilans.

“Kami mencari kontak eratnya, itu harus kita cari langsung, kita lakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) dan juga penyiapan laboratorium rujukan. Saat ini lab rujukan di Lab Penelitian Penyakit Infeksi Prof. dr. Sri Oemijati, ada juga beberapa laboratorium, Balai Besar Laboratorium Kesehatan Lingkungan Kemenkes,” jelas Maxi.

“Kita tinggal kirim sampel, reagen, nunggu hasil Whole Genome Sequencing (WGS).”

Kasus Cacar Mpox di RI Kini Tembus 30 Kasus

Share: