Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

RS Indonesia di Gaza Stop Layanan, 45 Pasien Terlantar

RS Indonesia di Gaza Stop Layanan, 45 Pasien Terlantar – Rumah Sakit (RS) Indonesia di Jalur Gaza benar-benar telah berhenti beroperasi karena kurangnya pasokan dan banyaknya pasien, saat perang terus berkecamuk antara Israel dan Hamas.

RS Indonesia di Gaza Stop Layanan, 45 Pasien Terlantar

RS Indonesia di Gaza Stop Layanan, 45 Pasien Terlantar

RS Indonesia yang terletak di wilayah utara Jalur Gaza ini, dilaporkan kewalahan menangani banyaknya korban luka akibat perang.

Seperti dilansir Al Arabiya dan Al Jazeera, Jumat (17/11/2023), situasi terkini di RS Indonesia itu diungkap oleh koresponden Al Arabiya di lapangan dan Direktur RS Indonesia Atef al-Kahlout.

Rekaman video dari rumah sakit yang terletak di Beit Lahiya itu menunjukkan warga Palestina yang mengalami luka-luka berbaris di lorong-lorong fasilitas medis dan berbaring di tengah genangan darah.

Al-Kahlout menuturkan bahwa sedikitnya 45 pasien di RS Indonesia membutuhkan ‘intervensi bedah segera’.

“Kami tidak bisa menawarkan layanan apa pun lagi… kami tidak bisa menawarkan tempat tidur apa pun kepada para pasien,” tutur al-Kahlout saat berbicara kepada Al Jazeera pada Kamis (16/11) waktu setempat.

Sementara RS Indonesia memiliki kapasitas untuk 140 pasien, al-Kahlout mengatakan bahwa sekitar 500 pasien saat ini berada di dalam rumah sakit tersebut.

Dia bahkan menyatakan dirinya meminta ambulans untuk ‘tidak membawa lebih banyak orang-orang yang terluka’ ke rumah sakit itu karena kurangnya kapasitas.

Dituturkan al-Kahlout bahwa departemen-departemen yang ada di RS Indonesia ‘tidak bisa melaksanakan tugas-tugas mereka’.

Para tenaga kesehatan di rumah sakit itu menyebut adanya kekurangan pasokan yang parah.

“Kami tidak memiliki tempat tidur,” ucap salah satu tenaga kesehatan RS Indonesia saat mendampingi koresponden Al Jazeera berkeliling gedung rumah sakit.

RS Indonesia di Gaza Stop Layanan, 45 Pasien Terlantar

“Orang ini membutuhkan unit perawatan intensif,” imbuhnya, sembari menunjuk ke seorang pemuda yang terletak di lantai saat ditangani oleh seorang perawat.

“Dan (di sini),” ujar tenaga kesehatan itu sambil menunjuk seorang pasien yang kakinya diamputasi, “Kami tidak mempunyai obat”.

“Kami menerima orang-orang yang terluka dari Wadi Gaza hingga Beit Hanoon. Beberapa dari mereka telah berada di sini selama 10 hari,” sebutnya.

Nyaris 30.000 orang mengalami luka-luka sejak Israel melakukan pengeboman besar-besaran terhadap Jalur Gaza pada 7 Oktober lalu, setelah Hamas melancarkan serangan mengejutkan terhadap wilayah Israel bagian selatan yang dilaporkan menewaskan sekitar 1.200 orang.

Rentetan serangan Israel di Jalur Gaza selama lebih dari sebulan terakhir dilaporkan telah menewaskan lebih dari 11.400 orang, termasuk lebih dari 4.600 anak.

Israel juga sangat membatasi pasokan air, makanan, listrik dan bahan bakar. Badan-badan bantuan kemanusiaan memperingatkan adanya bencana kemanusiaan di daerah kantong Palestina tersebut.

Seorang pejabat Hamas mengatakan pada Selasa (14/11) waktu setempat bahwa pengeboman dan operasi darat Israel terhadap Jalur Gaza telah membuat 25 rumah sakit, dari total 35 rumah sakit, tidak bisa beroperasi secara layak.

“Mereka juga menghancurkan 94 gedung pemerintah dan 253 sekolah,” sebut seorang pejabat Hamas yang berbasis di Lebanon, Osama Hamdan, dalam konferensi pers di Beirut.

RS Indonesia di Gaza Stop Layanan, 45 Pasien Terlantar The 50-day war in July-August 2014, which killed 73 Israelis and some 2,200 Palestinians, destroyed or severely damaged more than 20,000 Palestinian homes, 148 schools, 15 hospitals and 45 primary healthcare centres. (Photo by MOHAMMED ABED / AFP)

Krisis Bahan Bakar: Sistem Komunikasi Gaza Mati, Rumah Sakit Indonesia Stop Beroperasi

Layanan internet dan telepon terputus di seluruh Jalur Gaza sejak Kamis (16/11/2023), menyusul kehabisan bahan bakar. Hal tersebut dikonfirmasi oleh perusahaan telekomunikasi Palestina, Paltel.

“Dengan menyesal kami mengumumkan bahwa semua layanan telekomunikasi di 𝐆𝐚𝐳𝐚 𝐒𝐭𝐫𝐢𝐩 terputus karena semua sumber energi yang menopang jaringan telah habis, dan bahan bakar tidak diizinkan masuk. #KeepGazaConnected,” ungkap Paltel via X alias Twitter.

Peristiwa terputusnya komunikasi ini terjadi di tengah isyarat Israel akan menargetkan wilayah selatan Gaza, tempat sebagian besar warga Gaza mengungsi.

Pasukan Israel pada hari yang sama mengaku menggeledah Rumah Sakit al-Shifa untuk mencari jejak Hamas.

Mereka mempertontonkan apa yang klaim sebai pintu masuk terowongan dan senjata yang ditemukan di dalam truk di kompleks al-Shifa.

Militer Israel hingga kini belum merilis bukti adanya pusat komando Hamas yang menurut mereka tersembunyi di bawah kompleks itu.

Hamas dan staf al-Shifa, yang merupakan rumah sakit terbesar di Jalur Gaza, telah membantah keras tuduhan Israel.

Selain itu, militer Israel mengatakan pula bahwa mereka menemukan mayat salah satu sandera yang diculik Hamas, Yehudit Weiss (65), di sebuah gedung yang berdekatan dengan al-Shifa.

Mereka tidak merinci penyebab kematian sandera. Demikian seperti dilansir AP, Jumat (17/11).

RS Indonesia di Gaza Stop Layanan, 45 Pasien Terlantar

Perang Hamas Vs Israel babak baru diawali oleh serangan Hamas ke Israel selatan pada 7 Oktober, yang menurut Israel menewaskan setidaknya 1.200 orang dan menyandera lebih dari 200 orang.

Israel pun bersumpah akan memusnahkan Hamas, melancarkan serangan udara hingga darat ke Gaza yang menurut update Kementerian Kesehatan Palestina telah menewaskan 11.470 orang termasuk 4.707 orang. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan anak.

Seperti dikutip dari The Guardian, dalam beberapa hari terakhir, update terkait korban tewas di Gaza akibat serangan Israel diambil alih Kementerian Kesehatan Palestina yang berkedudukan di Tepi Barat.

Sebelumnya, otoritas kesehatan Gaza yang dikelola Hamas merupakan sumber informasi utama, namun mereka berhenti merilis jumlah korban tewas setelah pejabatnya yang berbasis di Rumah Sakit al-Shifa di Kota Gaza terputus aksesnya ke listrik dan konektivitas.

Laporan mengenai terputusnya akses komunikasi di Gaza juga disuarakan oleh Bisan Owda, yang merupakan filmmaker dan koresponden sejumlah media, termasuk Al Araby TV.

“Hari ini hari ke-41 perang di Gaza dan koneksi internet permanen terputus di Gaza, tidak ada koneksi internet koneksi akibat pengeboman dan kehabisan bahan bakar,” ungkap Bisan yang telah mengungsi ke selatan Gaza dalam laporannya.

Fotografer Motaz Azaiza juga mengungkapkan hal serupa.

“Kami kehilangan koneksi karena kekurangan bahan bakar. Tidak ada sambungan telepon, tidak ada sinyal, tidak ada internet,” tulisnya via story di Instagram @motaz_azaiza

Baik Bisan maupun Motaz merupakan dua dari sedikit sumber informasi langsung yang kerap melaporkan perkembangan situasi di Jalur Gaza.

RS Indonesia di Gaza Stop Layanan, 45 Pasien Terlantar

Warga Gaza Kelaparan

Program Pangan Dunia PBB (WFP) memperingatkan bahwa Jalur Gaza kini menghadapi kesenjangan pangan yang sangat besar dan kelaparan yang meluas. Hampir seluruh penduduk di sana sangat membutuhkan bantuan pangan.

Dalam pernyataan pada Kamis, Direktur Eksekutif WFP Cindy McCain mengatakan pasokan makanan dan air praktis tidak ada di Gaza dan hanya sebagian kecil bantuan yang dibutuhkan mencapai wilayah tersebut melalui perbatasan.

“Dengan semakin dekatnya musim dingin, tempat penampungan yang tidak aman dan penuh sesak, serta kurangnya air bersih, warga sipil menghadapi kemungkinan kelaparan.

Tidak ada cara untuk memenuhi kebutuhan kelaparan saat ini hanya dengan satu operasional penyeberangan perbatasan.

Satu-satunya harapan adalah membuka jalur lain yang aman bagi akses kemanusiaan untuk membawa makanan penyelamat jiwa ke Gaza,” ujar McCain, seperti dikutip The Guardian.

Awal pekan ini, WFP mengonfirmasi penutupan toko roti terakhir yang beroperasi dalam kemitraan dengannya karena kekurangan bahan bakar.

Menurut WFP, roti yang merupakan makanan pokok masyarakat Gaza langka atau bahkan tidak ada sama sekali.

Kekurangan bahan bakar, ungkap WFP, juga melumpuhkan distribusi dan operasi kemanusiaan, termasuk pengiriman bantuan makanan.

Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengatakan tidak akan ada pengiriman bantuan ke Gaza dari penyeberangan Rafah mulai besok karena alasan tersebut.

RS Indonesia di Gaza Stop Layanan, 45 Pasien Terlantar

Layanan Rumah Sakit Lumpuh

Rumah Sakit Indonesia di Gaza utara telah ditutup sepenuhnya dan sekitar 45 pasien yang sangat membutuhkan pembedahan ditinggalkan di ruang tunggu.

Demikian disampaikan Direktur Rumah Sakit Indonesia di Gaza Atef al-Kahlout kepada Al Jazeera.

“Rumah sakit Indonesia telah sepenuhnya berhenti melayani dan beroperasi,” kata Kahlout, menurut laporan Reuters.

“Karena ketidakmampuan klinis kami untuk menampung pasien dari Gaza dan wilayah utara, kami mengumumkan bahwa rumah sakit tersebut telah berhenti beroperasi sepenuhnya.”

Sementara itu, Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS) melaporkan bahwa Rumah Sakit Baptis Al-Ahli di Kota Gaza saat ini dikepung oleh tank-tank Israel.

“Tank-tank militer Israel mengepung Rumah Sakit Baptis Al-Ahli di Gaza dan serangan kekerasan sedang berlangsung. Tim PRCS tidak dapat bergerak dan menjangkau mereka yang terluka,” sebut PRCS via X alias Twitter.

Sistem Komunikasi di Gaza Mati Total Imbas Kehabisan Pasokan Bahan Bakar

Kepala badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) Philippe Lazzarini menyebut sistem komunikasi di Gaza, Palestina, mengalami pemadaman total karena kehabisan pasokan bahan bakar.

Dia mengkhawatirkan ketertiban sipil di Gaza setelah sistem komunikasi terputus pada Kamis (16/11) waktu setempat.

“Gaza kembali mengalami pemadaman komunikasi total dan… hal ini terjadi karena tidak adanya bahan bakar,” kata Lazzarini pada konferensi pers di Jenewa seperti dilansir AFP, Jumat (17/11/2023).

RS Indonesia di Gaza Stop Layanan, 45 Pasien Terlantar

Perusahaan telekomunikasi Palestina Paltel membenarkan adanya pemadaman listrik tersebut.

“Semua layanan telekomunikasi di Jalur Gaza tidak berfungsi karena semua sumber energi yang menopang jaringan telah habis, dan bahan bakar tidak diperbolehkan masuk,” tulis Paltel di akun X, yang sebelumnya bernama Twitter.

Pengumuman tersebut muncul sehari setelah sebuah truk yang membawa 23.000 liter bahan bakar memasuki Gaza, menandai pengiriman bahan bakar pertama ke wilayah Palestina sejak perang antara Israel dan Hamas meletus hampir enam minggu lalu.

Israel telah berjanji untuk memberantas Hamas setelah militannya melakukan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada 7 Oktober, menewaskan 1.200 orang, sebagian besar dari mereka adalah warga sipil, dan menyandera sekitar 240 orang.

Militer Israel mengatakan 51 tentaranya telah tewas di Gaza sejak pertempuran dimulai.

Menurut kementerian kesehatan yang dikelola Hamas, pengeboman dan serangan darat Israel yang tiada henti di Gaza telah menewaskan lebih dari 11.500 orang, sebagian besar juga warga sipil dan termasuk ribuan anak-anak.

Israel juga telah memberlakukan pengepungan total terhadap Gaza, dengan hanya sedikit memasok makanan, air, obat-obatan dan bantuan lainnya yang masuk, dan tidak ada bahan bakar selain satu truk yang dimuat pada minggu ini.

Israel khawatir Hamas akan menggunakan bahan bakar untuk senjata dan bahan peledak.

Namun lembaga-lembaga bantuan telah berulang kali menggarisbawahi betapa mendesaknya kebutuhan akan bahan bakar, yang digunakan untuk menggerakkan generator rumah sakit dan memurnikan air minum.

Lazzarini menunjukkan bahwa karena kekurangan bahan bakar, 70 persen penduduk di Gaza selatan tidak lagi dapat mengakses air bersih.

Menurutnya, satu truk berisi bahan bakar yang diperbolehkan masuk masih jauh dari cukup.

Dia memperingatkan bahwa operasi UNRWA berada di ambang kehancuran. Menurutnya, dampak dari pengepungan Israel itu sangat buruk, ia yakin ada upaya yang disengaja untuk menghambat operasi dan melumpuhkan operasi UNRWA di Gaza.

“Kami membutuhkan bahan bakar, bahan bakar, dan bahan bakar,” katanya.

“Saat ini, tidak ada lagi bahan bakar yang tersedia di Jalur Gaza – atau setidaknya tidak dapat diakses oleh UNRWA. Jika masalah bahan bakar tidak diatasi, kami berisiko menghentikan seluruh operasi kemanusiaan,” tambahnya.

RS Indonesia di Gaza Stop Layanan, 45 Pasien Terlantar

Share: