Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Leap Day 2024 jadi Google Doodle dan Sejarah Unik Tahun Kabisat

Leap Day 2024 jadi Google Doodle dan Sejarah Unik Tahun Kabisat – Hari ini, Kamis, 29 Februari 2024, merupakan momen istimewa karena dirayakan sebagai leap day atau hari kabisat. Ini adalah peristiwa langka dan spesial yang terjadi hanya setiap empat tahun sekali.

Leap Day 2024 jadi Google Doodle dan Sejarah Unik Tahun Kabisat
Leap Day 2024 jadi Google Doodle

Leap Day 2024 jadi Google Doodle dan Sejarah Unik Tahun Kabisat

Pada leap day, satu hari tambahan dimasukkan ke dalam tahun tersebut, membuatnya menjadi 366 hari daripada 365 hari seperti biasanya.

Fenomena ini terjadi pada sebagian besar tahun yang habis dibagi empat, seperti 2020, 2024, 2028, dan seterusnya.

Tahun 2024 adalah tahun kabisat, yang berarti bahwa bulan Februari memiliki 29 hari, dan Leap Day 2024 jatuh pada hari Jumat, 29 Februari 2024.

Google Doodle, yang biasanya merayakan peristiwa penting di seluruh dunia, kemungkinan menampilkan ilustrasi khusus hari ini untuk memperingati Leap Day 2024 atau Hari Kabisat 2024.

Tahun kabisat memiliki arti penting karena membantu menandai pergantian musim dan menjaga kalender tetap sinkron dengan musim.

Tanpa tahun kabisat, kalender kita secara bertahap akan kehilangan sinkronisasi dengan musim karena Bumi membutuhkan sekitar 365,2422 hari untuk menyelesaikan satu orbit mengelilingi matahari, sedikit lebih dari 365 hari.

Berikut sejarah, istilah tahun kabisat yang dikutip dari berbagai sumber:

A. Sejarah Tahun Kabisat

konsep hari kabisat atau leap day sudah ada sejak zaman kuno ketika sistem kalender belum seakurat sekarang.

Pada peradaban awal termasuk Mesir dan Romawi memakai berbagai metode untuk menyeleraskan kalender mereka dengan tahun matahari.

Namun, Julius Caesar yang menerapkan kalender Julian pada 45 SM, memperkenalkan gagasan menambahkan satu hari ekstra pada Februari setiap empat tahun untuk memperhitungkan tahun matahari yang sedikit lebih panjang.

Istilah Tahun Kabisat

Belakangan kalender Gregorian yang diperkenalkan Paus Gregorius XIII pada 1582 semakin menyempurnakan sistem ini dengan menetapkan aturan penentuan tahun kabisat.

Menurut aturan ini, suatu tahun adalah tahun kabisat jika tahun tersebut habis dibagi 4, tetapi tidak habis dibagi 100, kecuali tahun tersebut juga habis dibagi 400.

Penyesuaian ini membantu menjaga tahun kalender tetap sinkron dengan tahun matahari dengan lebih akurat.

Leap Day 2024 jadi Google Doodle dan Sejarah Unik Tahun Kabisat
Istilah Tahun Kabisat

B. Istilah Tahun Kabisat

Istilah kabisat, mengutip Antara, memiliki asal bahasa Arab, yaitu “Kabisah” yang berasal dari kata dasar “Kabas” yang artinya melompat atau menyimpang.

Istilah ini merujuk pada tahun yang memiliki jumlah hari tambahan yang dianggap “melompat” dari pola tahun biasanya.

Terlebih lagi, istilah ini diadaptasi ke dalam bahasa lain, termasuk Bahasa Inggris di mana peristiwa tahun kabisat disebut sebagai “Leap Year”.

Istilah ini memiliki makna yang sama, yaitu tahun yang “melompat” dari pola tahun biasa dengan penambahan hari.

C. Perhitungan Tahun Kabisat

Dalam tahun kabisat, bulan Februari memiliki 29 hari sebagai akibat dari penambahan satu hari pada tahun tersebut. Fenomena tahun kabisat terkait erat dengan orbit Bumi mengelilingi Matahari.

Bumi memerlukan sekitar 365,25 hari untuk menyelesaikan satu putaran mengelilingi Matahari. Namun, dalam sistem kalender yang umum digunakan, jumlah hari dalam satu tahun kalender dibulatkan menjadi 365 hari.

Sisa pecahan dari 0,25 hari ini kemudian ditambahkan ke kalender dalam satu tahun ekstra yang disebut sebagai tahun kabisat.

Dalam kalender Gregorian, aturan menentukan tahun kabisat adalah sebagai berikut: Tahun akan dianggap sebagai tahun kabisat jika tahun tersebut habis dibagi 4.

Namun, ada pengecualian: tahun-tahun yang habis dibagi 100 tidak dianggap sebagai tahun kabisat, kecuali jika mereka habis dibagi 400.

Oleh karena itu, satu hari ekstra ditambahkan pada bulan Februari setiap empat tahun sekali untuk menjaga agar kalender tetap sejalan dengan orbit Bumi.

Inilah alasan mengapa bulan Februari memiliki 29 hari selama tahun kabisat, sementara bulan-bulan lainnya tetap mempertahankan jumlah hari mereka sesuai dengan kalender biasa.

Leap Day 2024 jadi Google Doodle dan Sejarah Unik Tahun Kabisat
Google Doodle

Tidak Semua Tahun Habis Dibagi Empat adalah Kabisat

Penentuan tahun kabisat atau leap year tidak semata-mata hanya berdasarkan pembagian tahun dengan angka empat.

Aturannya menjadi sedikit lebih rumit, dan hal ini berkaitan dengan keakuratan kalender dalam menyesuaikan periode orbit Bumi sekitar Matahari.

Pada dasarnya, sistem kalender harus bisa menyesuaikan jumlah hari dalam setahun dengan periode revolusi Bumi mengelilingi Matahari, yang sekitar 365,2422 hari.

Hal ini berarti bahwa dalam setahun kalender, harus ada tambahan hari untuk menutupi “kelebihan” waktu tersebut.

Pertama-tama, tahun-tahun yang habis dibagi empat dianggap sebagai tahun kabisat. Ini mencakup banyak tahun seperti 2020, 2024, 2028, dan seterusnya. Tetapi, ada pengecualian terhadap aturan ini.

Tahun yang habis dibagi 100 tidak akan menjadi tahun kabisat, kecuali jika mereka juga habis dibagi 400.

Misalnya, tahun 1900 bukan tahun kabisat karena habis dibagi 100, tetapi tidak habis dibagi 400. Namun, tahun 2000 adalah tahun kabisat karena habis dibagi 400.

Pertanyaan besar adalah mengapa ada pengecualian untuk tahun yang habis dibagi 100, seperti 2100, meskipun itu bisa dibagi empat.

Ini karena penyederhanaan yang terjadi pada kalender Julian yang diperkenalkan oleh Julius Caesar pada tahun 46 SM.

Kalender Julian menambahkan satu hari ekstra ke bulan Februari setiap empat tahun untuk mengimbangi perbedaan sekitar seperempat hari dalam orbit Bumi sekitar Matahari.

Namun, itu adalah koreksi berlebihan karena tahun matahari sebenarnya hanya sekitar 365,2422 hari.

Ketidaksesuaian ini akhirnya membuat perhitungan kalender menjadi tidak akurat. Untuk mengatasinya, Kalender Gregorian diperkenalkan pada tahun 1582 oleh Paus Gregorius XIII.

Kalender ini membuat penyesuaian pada aturan tahun kabisat untuk memastikan bahwa tahun 2100 bukan tahun kabisat, sehingga kalender dapat lebih akurat dalam menyesuaikan periode orbit Bumi sekitar Matahari.

Leap Day 2024 jadi Google Doodle dan Sejarah Unik Tahun Kabisat
Mengapa Kabisat Jatuh di Bulan Februari

Mengapa Kabisat Jatuh di Bulan Februari

Pengertian dan sejarah tentang hari kabisat memang menarik untuk dikupas lebih dalam.

Dalam sejarah Romawi kuno, konsep hari kabisat terhubung erat dengan bulan Februari. Romawi menganggap musim dingin sebagai periode tunggal yang tidak dibagi menjadi beberapa bulan seperti halnya musim lainnya.

Hal ini menyebabkan Januari dan Februari memiliki jumlah hari yang lebih sedikit dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Pada era sekitar tahun 1582, Paus Gregorius XIII memperkenalkan kalender Gregorian, yang sejak itu menjadi standar kalender universal.

Dalam pengaturan ini, setiap tahun yang habis dibagi empat secara matematis dianggap sebagai tahun kabisat.

Namun, keputusan pasti tentang penentuan hari kabisat baru diberlakukan oleh hukum Inggris pada abad ke-18, yang menetapkan bahwa 29 Februari secara resmi adalah hari kabisat.

Jadi, Google Doodle Leap Day 2024 atau Hari Kabisat 2024 yang kita alami hari ini, tepatnya pada tanggal 29 Februari 2024, adalah perayaan langka yang terjadi hanya setiap empat tahun sekali.

Ini menjadi momen istimewa di mana satu hari tambahan ditambahkan ke dalam kalender tahunan, menandai penyesuaian penting dalam perhitungan waktu dan musim.

Leap Day 2024 jadi Google Doodle dan Sejarah Unik Tahun Kabisat
Leap Day 2024
Share: